Selasa, 03 Mei 2011

LOGIKA DAN ALGORITMA

1. LOGIKA

Kata “logika” sering terdengar dalam percakapan sehari-hari, biasanya dalam arti “menurut akal”, seperti kalau orang berkata “menurut logikanya ia harus berterima kasih, bukan malah marah-marah”. Akan tetapi “logika” sebagai istilah berarti “suatu metode atau teknik yang diciptakan untuk meneliti ketepatan penalaran”. Maka untuk memahami apakah logika itu, kita harus mengetahui pengertian yang jelas tentang penalaran. Penalaran adalah suatu bentuk pemikiran. Adapun bentuk-bentuk pemikiran yang lain, mulai yang paling sederhana adalah pengertian atau konsep, proposisi atau pernyataan, dan penalaran. Tidak ada proposisi tanpa pengertian, dan tidak ada penalaran tanpa proposisi. Maka untuk memahami penalaran, ketiga bentuk pemikiran tersebut harus dipahami bersama-sama.

DEFENISI LOGIKA
1. Penalaran atau bentuk pemikiran
2. ilmu yang diberikan prinsip-prinsip yang harus diikuti agar dapat berfikir valid menurut aturan

LOGIKA DALAM ILMU PENGETAHUAN
Logika merupakan sebuah ilmu pengetahuan dimana objek materialnya adalah berpikir(khususnya penalaran /proses penalaran) dan objek formal logika adalah berfikir/penalaran yang di tinjau dari segi ketepatanya.
• Logika sebagai matematika murni
Logika masuk kedalam kategori matematika murni karena matematika adalh logika yang tersistematisasi ,matematika adalah pendekatan logika pada metode ilmu ukur yang menggunakan tanda tanda/symbol symbol matematika (logika simbolik).


KEGUNAAN LOGIKA
1. Membentuk setiap orang yang mempelajari logika untuk berfikir secara rasional, kritis, lurus, ketat, tertib, dan metodis.
2. Meningkatkan kemampuan secara format dan objektif.
3. Menambah kecerdasan dan meningkatkan kemapuan berfikir secara tajam dan mandiri.
4. Memaksa dan mendorong untuk berpikir sendiri dengan menggunakan akses akses sistematis.
5. Meningkatkan cinta akan kebenaran dan menghindari kesalahan befikir, kekeliruan, serta kesesata.
6. Mampu melakukan analisis terhadapsuatu kejadian.


DASAR DASAR LOGIKA

1. Pengertian
Kita mulai, misalnya dengan observasi empirik atau pengamatan indera, mata melihat ayam berwarna putih, telinga mendengar suara berkokok. Bersamaan dengan aktivitas indera tersebut terjadilah aktivitas pikiran sehingga membentuk pengertian. Dalam hal ini pengertian yang terbentuk adalah “ayam putih sedang berkokok”. Betul tidaknya suatu pengertian tergantung dari tepat tidaknya cara melakukan observasi, dan ini adalah masalah fisik, masalah indera, bukan masalah pikiran. Sekali indera mengobservasi, terbentuklah pengertian yang bagi pikiran merupakan data dalam proses berfikir lebih lanjut. Karena berasal dari pengalaman empiric, maka pengertian itu juga disebut data empiric. Juga disebut data psikologik, karena terbentuk melalui proses psikologik, yaitu pengamatan indera.
Jadi, pengertian adalah sesuatu yang abstrak. Oleh karena itu untuk dapat mengetahuinya pengertian harus disampaikan dengan lambang yaitu bahasa.

2. Proposisi
Bersamaan dengan terjadinya observasi empiric didalam pikiran, tidak hanya terbentuk pengertian, akan tetapi juga terjadi perangkaian dari kata-kata. Tidak pernah ada pengertian yang berdiri sendiri.

Perangkaian pengertian itulah yang disebut dengan proposisi. Dalam proses pembentukan proposisi terjadi dua hal, yaitu :
1. Proses pembentukan proposisi terjadi begitu rupa, sehingga ada pengertian yang menerangkan tentang pengertian yang lain, atau ada pengertian yang diingkari oleh pengertian yang lain. Dengan menggunakan contoh ayam diatas, proses perangkaian kata menghasilkan proposisi “ayam putih itu berkokok”. “Berkokok” menerangkan tentang “ayam putih”. Pengertian yang menerangkan itu disebut dengan “predikat”, sedang pengertian yang diterangkan disebut dengan “subyek”. Kalau predikat disingkat dengan “P” dan subyek disingkat dengan “S”, maka pola proposisi ditulis P=S. Kalau dalam proses perangkaian itu terjadi pengingkaran, maka proposisi yang terbentuk adalah “ayam putih itu tidak berkokok” dan pola proposisi ditulis P¹S.
2. Dalam proses pembentukan proposisi itu sekaligus terjadi pengakuan bahwa ayam putih itu memang berkokok., atau bahwa ayam putih itu memang tidak berkokok. Dari sini jelaslah bahwa proposisi itu mengandung sifat benar atau salah. Sebaliknya pengertian itu tidak ada hubungannya dengan benar atau salah.

Contoh penentuan proposisi
Pernyataan-pernyataan berikut ini,

(a) 6 adalah bilangan genap.
(b) Soekarno adalah Presiden Indonesia yang pertama.
(c) 2 + 2 = 4.
(d) Ibukota Provinsi Jawa Barat adalah Semarang.
(e) 12 ³ 19.
(f) Kemarin hari hujan.
(g) Suhu di permukaan laut adalah 21 derajat Celcius.
(h) Pemuda itu tinggi.
(i) Kehidupan hanya ada di planet Bumi.

semuanya merupakan proposisi. Proposisi a, b, dan c bernilaibenar, tetapi proposisi d
salah karena ibukota Jawa Barat seharusnya adalah Bandungdan proposisi e bernilai
salah karena seharusnya 12 £ 19. Proposisi f sampai i memang tidak dapat langsung ditetapkan kebenarannya, namun satu hal yang pasti,proposisi-proposisi tersebut tidak mungkin benar dan salah sekaligus. Kita bisa menetapkannilai proposisi tersebut benar atau salah. Misalnya, proposisi f bisa kita andaikan benar(hari kemarin memang hujan) atau salah (hari kemarin tidak hujan). Demikian pula halnyauntuk proposisi g dan h. Proposisi i bisa benar atau salah, karena sampai saat inibelum ada ilmuwan yang dapat memastikan kebenarannya.


3. Mengkombinasikan Proposisi
Kita dapat membentuk proposisi baru dengan caramengkombinasikan satu atau lebih proposisi. Operator yang digunakan untuk mengkombinasikanproposisi disebut operator logika. Operator logika dasar yang digunakan adalahdan (and), atau (or), dan tidak (not). Dua operator pertama dinamakanoperator biner karena operator tersebut mengoperasikan dua buah proposisi,sedangkan operator ketiga dinamakan operator uner karena ia hanya membutuhkan satubuah proposisi. Proposisi baru yang diperoleh dari pengkombinasian tersebutdinamakan proposisi majemuk (compound proposition). Proposisi yang bukanmerupakan kombinasi proposisi lain disebut proposisi atomik. Dengan kata lain,proposisi majemuk disusun dari proposisi-proposisi atomik. Metodepengkombinasian proposisi dibahas oleh matematikawan Inggris yang bernama George Boolepada tahun 1854 di dalam bukunya yang terkenal, The Laws of Thought.Proposisi majemuk ada tiga macam, yaitu konjungsi, disjungsi, dan ingkaran.Ketiganya didefinisikan sebagai berikut:

Misalkan p dan q adalah proposisi. Konjungsi(conjunction) p dan q,
dinyatakan dengan notasi p Ù q, adalah proposisi
p dan q
Disjungsi (disjunction) p dan q, dinyatakan dengan notasi pÚ q, adalah proposisi
p atau q
Ingkaran atau (negation) dari p, dinyatakan dengan notasi~p, adalah proposisi
tidak p


Catatan:
1. Beberapa literatur menggunakan notasi “Øp”, “ p ”, atau“not p” untuk menyatakan ingkaran.
2. Kata “tidak” dapat dituliskan di tengah pernyataan. Jikakata “tidak” diberikan di awal pernyataan maka ia biasanya disambungkan dengan kata“benar” menjadi “tidak benar”. Kata “tidak” dapat juga digantidengan “bukan” bergantung pada rasa bahasa yang tepat untuk pernyataan tersebut.

Berikut contoh-contoh proposisi majemuk dan notasisimboliknya. Ekspresi
proposisi majemuk dalam notasi simbolik disebut jugaekspresi logika.
Contoh 1.3
Diketahui proposisi-proposisi berikut:
p : Hari ini hujan
q : Murid-murid diliburkan dari sekolah
maka
p Ù q : Hari ini hujan dan murid-murid diliburkan darisekolah
p Ú q : Hari ini hujan atau murid-murid diliburkan darisekolah
~p : Tidak benar hari ini hujan
(atau dalam kalimat lain yang lebih lazim: Hari ini tidakhujan)

Apa yang dinyatakan dalam proposisi seperti diatas adalah fakta, yaitu observasi yang dapat diverifikasi atau diuji kecocokannya secara empirik dengan menggunakan indera. Proposisi yang terjadi berdasarkan observasi empirik disebut dengan proposisi empirik. Sedangkan proposisi yang sifat kebenaran atau kesalahannya langsung nampak kepada pikiran dan oleh karenanya harus diterima disebut dengan proposisi mutlak. Lambang proposisi dalah bahasa adalah kalimat berita. Hanya kalimat beritalah yang mempunyai sifat benar atau salah.

4. Penalaran
Pembahasan kita mulai dari proses berfikir dengan bertolak dari pengamatan indera atau observasi empirik. Prose situ didalam pikiran menghasilkan sejumlah pengertian dan proposisi sekaligus. Berdasarkan pengamatan-pengamatan indera yang sejenis, pikiran menyusun proposisi-proposisi yang sejenis pula. Misalnya: apel 1 berwarna hijau rasanya asam; apel 2 berwarna hijau rasanya asam; apel 3 berwarna hijau rasanya asam; dan seterusnya sampai apel ke 10. Kalau orang yang mengamati itu sadar akan kesamaan diantara kesepuluh proposisi itu, ia akan mengharapkan, bahwa apel-apel berwarna hijau lainpun rasanya asam.
Apa yang terjadi dalam proses diatas ialah, bahwa berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang akan menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut dengan penalaran. Kalau disusun secara formal bentuk penalaran itu menjadi sebagai berikut.
Apel 1 berwarna hijau rasanya asam
Apel 2 berwarna hijau rasanya asam
Apel 3 berwarna hijau rasanya asam
Apel 10 berwarna hijau rasanya asam
Jadi, Semua apel berwarna hijau rasanya asam
Dalam penalaran ini proposisi-proposisi yang menjadi dasar penyimpulan disebut antesedens atau premis, sedangkan kesimpulannya disebut konklusi atau konsekuens. Diantara premis dan konklusi ada hubungan tertentu yang disebut dengan konsekuensi.
Penalaran yang konklusinya bermakna lebih luas dari premisnya disebut dengan penalaran induktif, sedangkan penalaran yang premisnya bermakna lebih luas dari konklusinya disebut dengan penalaran deduktif.
Contoh penalaran deduktif:
Semua bintang film memakai sabun lux
Jadi, sebagian pemakai sabun lux adalah bintang film.
Penalaran itu erat dan dekat sekali artinya dengan penyimpulan, argumen dan bukti. Proses penalaran meliputi aktivitas mencari proposisi-proposisi untuk disusun menjadi premis, menilai hubungan proposisi-proposisi didalam premis itu dan menentukan konklusinya.
Kalau penalaran itu aktivitas pikiran yang abstrak, maka argumen ialah lambangnya yang berbentuk bahasa atau bentuk-bentuk lainnya. Jadi kata itu lambang pengertian, kalimat itu lambang proposisi, maka argumen adalah lambang penalaran.
Akhirnya yang disebut dengan bukti ialah argumen yang berhasil menentukan kebenaran konklusi dari premis.

DASAR-DASAR PENALARAN
Konsep dan term
Akal manusia apabila menangkap sesuatu terwujud dengan membuat konsep atau ide atau juga pengertian. Dengan demikian, buah atau hasil dari tangkapan akal disebut dengan istilah “konsep”. Jadi ide dan konsep dalam logika adalah sama artinya. Konsep atau ide atau juga pengertian adalah bersifat kerohanian dan dapat diungkapkan ke dalam bentuk kata atau istilah atau juga beberapa kata. Ungkapan pengertian dalam bentuk kata atau istilah disebut dengan “term”.
Term sebagai ungkapan konsep jika terdiri atas satu kata atau satu istilah maka term itu dinamakan term sederhana atau term simpel, dan jika terdiri atas beberapa kata maka term itu dinamakan term komposit atau term kompleks. Dan kata sebagai suatu simbol untuk menyatakan konsep dibedakan antara dua macam, yaitu kata kategorimatis dan kata sinkategorimatis.
Setiap term mempunyai konotasi atau isi. Konotasi adalah keseluruhan arti yang dimaksudkan oleh suatu term, yaitu kesatuan antara unsur dasar atau term yang lebih luas dengan sifat pembeda yang bersama-sama membentuk suatu pengertian. Konotasi secara singkat dapat dinyatakan merupakan suatu uraian tentang pembatasan arti atau definisi sehingga konotasi term adalah suatu definisi karena menunjukkan genus (jenis) dengan sifat pembeda.
Setiap term mempunyai denotasi atau lingkungan. Denotasi adalah keseluruhan hal yang ditunjuk oleh term atau keseluruhan hal sejauh mana term itu dapat diterapkan. Denotasi atau lingkungan atau sering juga disebut dengan luas, adalah mencakup semua hal yang dapat ditunjuk atau lingkungan yang dimaksudkan oleh term.
Denotasi term ini menunjukkan adanya suatu himpunan karena sejumlah hal-hal yang ditunjuk itu menjadi satu kesatuan dengan ciri tertentu (sifat-sifat tertentu). Jadi, dengan adanya sifat-sifat yang diuraikan oleh konotasi (isi term) maka dapatlah dihimpun beberapa hal tertentu menjadi satu kesatuan. Dan dengan menunjukkan beberapa hal maka denotasi berhubungan dengan kuantitas.
Konotasi dan denotasi term, mempunyai hubungan yang erat tidak dapat terlepaskan, berbentuk hubungan berbalikan (dasar balik) jika yang satu bertambah maka yang lain akan berkurang, demikian sebaliknya. Dalam hal ini terdapat 4 kemungkinan sebagai berikut. (1) Makin bertambah konotasi makin berkurang denotasi. (2) Makin berkurang konotasi makin bertambah denotasi. (3) Makin bertambah denotasi makin berkurang konotasi. (4) Makin berkurang denotasi makin bertambah konotasi.



Berbagai Macam Term
Term maupun konsep banyak sekali macam-macamnya demikian juga pembagiannya. Berbagai macam dikelompokkan atas 4 macam, yakni pembagian term menurut konotasinya, pembagian term menurut denotasinya, pembagian menurut cara beradanya sesuatu, dan pembagian menurut cara menerangkan sesuatu.
Berdasarkan konotasi, term dibedakan atas term konkret dan term abstrak. Di samping itu keduanya ada yang berada dalam lingkungan hakikat, dan ada yang berada dalam lingkungan sifat.
1. Hakikat konkret: yaitu menunjuk ke-”hal”-nya suatu kenyataan yang berkualitas dan bereksistensi.
2. Hakikat abstrak: menyatakan suatu kualitas yang tidak bereksistensi atau tidak ada dalam ruang dan waktu.
3. Sifat konkret: yaitu menunjuk pen-”sifatan”-nya suatu kenyataan yang berkualitas dan bereksistensi.
4. Sifat abstrak: yaitu menyatakan pensifatan yang terlepas dari eksistensi atau tidak ada dalam ruang dan waktu.
Berdasarkan denotasi term, dapat dibedakan term umum dan term khusus. Term umum dibedakan atas 2 macam sebagai berikut. (1) Universal, yaitu sifat umum yang berlaku di dalamnya tidak terbatas oleh ruang dan waktu. (2) Kolektif, yaitu sifat umum yang berlaku di dalamnya menunjuk suatu kelompok tertentu sebagai kesatuan. Term khusus juga dibedakan atas dua macam sebagai berikut. (1) Partikular, yaitu sifat khusus yang berlaku hanya menunjuk sebagian tidak tertentu. (2) Singular, yaitu sifat khusus hanya menunjuk pada satu hal atau suatu himpunan yang mempunyai hanya satu anggota.
Predikamen yang dimaksudkan ialah cara beradanya sesuatu. Term yang paling luas adalah term “ada” atau term “yang ada”. Term “ada” selanjutnya dibagi dalam 2 macam, yaitu ada yang tidak terbatas dan ada yang terbatas. Sesuatu yang ada (ada terbatas) pasti ada unsur hakikat dan unsur sifat atau menurut filsafat dinyatakan secara singkat terdiri atas substansi dan aksidensia. Substansi adalah hakikat sesuatu yang adanya terdapat di dalam diri sendiri sebagai pendukung sifat-sifat. Aksidensia merupakan kumpulan sifat zat, yang ada sembilan sifat, yaitu kuantitas, kualitas, aksi, pasi, relasi, ruang, waktu, posisi, keadaan.
Predikabel yang dimaksudkan ialah cara menerangkan sesuatu. Term ditinjau cara menjelaskan dibedakan menjadi 5 macam, yaitu genus, spesies, diferensia, propium, dan aksiden. Genus ialah himpunan golongan-golongan menunjukkan hakikat yang berbeda bentuk tetapi terpadu oleh persamaan sifat. Spesies ialah himpunan sesuatu yang menunjukkan hakikat bersamaan bentuk maupun sifatnya sehingga dapat memisahkan dari lain-lain golongan. Diferensia ialah sifat pembeda yang menunjukkan hakikat suatu golongan sehingga terwujud kelompok diri. Propium ialah sifat khusus sebagai predikat yang niscaya terlekat pada hakikat sesuatu diri sehingga dimiliki oleh seluruh anggota golongan. Aksiaden ialah sifat kebetulan sebagai predikat yang tidak bertalian dengan hakikat sesuatu diri sehingga tidak dimiliki oleh seluruh anggota golongan.
Dengan dasar lima predikabel tersebut dalam menjelaskan sesuatu, apa yang dijelaskan tempatkan sebagai spesies, kemudian mencari hubungan genus dan diferensianya, dan jika tidak mendapatkan dicari hubungan genus dengan propiumnya, dan jangan menggunakan hubungan genus dengan aksiden.


PRINSIP-PRINSIP PENALARAN

Prinsip-prinsip penalaran atau aksioma penalaran merupakan dasar semua penalaran yang terdiri atas tiga prinsip yang kemudian di tambah satu sebagai pelengkap. Aksioma atau prinsip dasar dapat didefinisikan: suatu pernyataan mengandung kebenaran universal yang kebenarannya itu sudah terbukti dengan sendirinya. Prinsip-prinsip penalaran yang dimaksudkan adalah: prinsip identitas, prinsip nonkontradiksi, dan prinsip eksklusi tertii, dan sebagai tambahan pelengkap prinsip identitas adalah prinsip cukup alasan.
Prinsip identitas menyatakan: “sesuatu hal adalah sama dengan halnya sendiri”. Sesuatu yang disebut p maka sama dengan p yang dinyatakan itu sendiri bukan yang lain. Dalam suatu penalaran jika sesuatu hal diartikan sesuatu p tertentu maka selama penalaran itu masih berlangsung tidak boleh diartikan selain p, harus tetap sama dengan arti yang diberikan semula atau konsisten. Prinsip identitas menuntut sifat yang konsisten dalam suatu penalaran jika suatu himpunan beranggotakan sesuatu maka sampai kapan pun tetap himpunan tersebut beranggotakan sesuatu tersebut.
Prinsip nonkontradiksi menyatakan: “sesuatu tidak mungkin merupakan hal tertentu dan bukan hal tertentu dalam suatu kesatuan”, Prinsip ini menyatakan juga bahwa dua sifat yang berlawanan penuh (secara mutlak) tidak mungkin ada pada suatu benda dalam waktu dan tempat yang sama. Dalam penalaran himpunan prinsip nonkontradiksi sangat penting, yang dinyatakan bahwa sesuatu hal hanyalah menjadi anggota himpunan tertentu atau bukan anggota himpunan tersebut, tidak dapat menjadi anggota 2 himpunan yang berlawanan penuh. Prinsip nonkontradiksi memperkuat prinsip identitas, yaitu dalam sifat yang konsisten tidak ada kontradiksi di dalamnya.
Prinsip eksklusi tertii menyatakan bahwa “sesuatu jika dinyatakan sebagai hal tertentu atau bukan hal tertentu maka tidak ada kemungkinan ketiga yang merupakan jalan tengah”. Prinsip eksklusi tertii menyatakan juga bahwa dua sifat yang berlawanan penuh (secara mutlak) tidak mungkin kedua-duanya dimiliki oleh suatu benda, mestilah hanya salah satu yang dapat dimilikinya sifat p atau non p. Demikian juga dalam penalaran himpunan dinyatakan bahwa di antara 2 himpunan yang berbalikan tidak ada sesuatu anggota berada di antaranya, tidak mungkin ada sesuatu di antara himpunan H dan himpunan non H sekaligus. Prinsip ketiga ini memperkuat prinsip identitas dan prinsip nonkontradiksi, yaitu dalam sifat yang konsisten tidak ada kontradiksi di dalamnya, dan jika ada kontradiksi maka tidak ada sesuatu di antaranya sehingga hanyalah salah satu yang diterima.
Prinsip cukup alasan menyatakan: “suatu perubahan yang terjadi pada sesuatu hal tertentu mestilah berdasarkan alasan yang cukup, tidak mungkin tiba-tiba berubah tanpa sebab-sebab yang mencukupi”. Prinsip cukup alasan ini dinyatakan sebagai tambahan bagi prinsip identitas karena secara tidak langsung menyatakan bahwa sesuatu benda mestilah tetap tidak berubah, tetap sebagaimana benda itu sendiri jika terjadi suatu perubahan maka perubahan itu mestilah ada sesuatu yang mendahuluinya sebagai penyebab perubahan itu.

Contoh soal
- Ayam suka bernyanyi
- Bernyanyi itu menghibur hati
Jadi, ayam juga menghibur hati
Contoh ini penalarannya valid tapi kesimpulannya salah. Penalaran tersebut valid karena diturunkan dari premis yang tersedia. Namun kesimpulannya salah sebab baik premis maupun kesimpulannya tidak sesuai dengan fakta. Ataupun dengan kata lain tidak ada korespondensi antara pernyataan dan fakta.



2. LOGIKA PROFESIONAL


DEFINISI
• Logika adalah suatu system berbasis proposisi.
• Suatu proposisi adalah suatu pernyataan (statement) yang dapat ber”nilai” Benar (true) atau Salah (false) dan tidak keduanya.
• Dikatakan bahwa nilai kebenaran daripada suatu proposisi adl salah satu dari benar (true disajikan dng T) atau salah (false disajikan dengan F).
• Dalam untaian digital (digital circuits) disajikan dng 0 dan 1
Proposisi adalah kalimat deklaratif (atau pernyata an) yang memiliki hanya satu nilai kebenaran yaitu banar saja atau salah saja, akan tetapi tidak keduanya.
Proposisi yang bukan hasil kombinasi dari proposisi-proposisi disebut atom. Jika atom-atom akan dikombinasikan untuk memperoleh proposisi baru maka diperlukan operator logika atau operator sambung yang dilambangkan dng simbol:
• Ø : “not”, atau “negasi” ( simbol lain adl ~ )
• Ù : “and”, atau “konjungsi” ( simbol lain adl &)
• Ú : “or” , atau “disjungsi” atau “inclusive or”
• Å : “xor”, atau “exclusive or”
• ®: “implies”, atau “Jika … maka…”, atau “implikasi kondisional”
• . «: “jika dan hanya jika”, atau “bikondisional”

LOGIKA PROPOSISIONAL
Penggandeng Logis (Logical Connectives)

1. Negasi (not)
Jika p sebarang proposisi, pernyataan “not p” atau “negasi dp p” akan bernilai F jika p bernilai T dan sebaliknya. Dan ditulis dengan Øp ( “Ø” disebut operator unary/monadika) dan akan digambarkan dengan tabel kebenaran sebagai berikut :


2. Konjungsi/conjunction (and)
Konjungsi adalah suatu operator binary atau diadika (diadic). Jika p dan q suatu proposisi, pernyataan p and q akan bernilai kebenaran T jika dan hanya jika kedua p dan q mempunyai nilai kebenaran T, dan ditulis dengan p Ù q dimana operatornya terletak diantara kedua variabel (operand) tsb dan mempunyai tabel kebenaran seperti terlihat pada slide berikut :

Tabel kebenaran juga dapat disajikan dng suatu bentuk dua di mensi sebagai berikut :

• Bentuk terakhir ini hanya dapat digunakan hanya untuk fungsi dua variabel
• Perhatikan bahwa untuk kalimat “Benda ini berwarna merah” dan “Benda ini berwarna putih” jika digandeng dengan “and” maka berbunyi “Benda ini berwarna merah “and” putih” yang artinya lain dengan “Benda ini berwarna merah and Benda ini berwarna putih”, jelaskan !!
• Sifatnya :
Komutatif ( p Ù q = q Ù p)
Asosiatif ( (pÙq)Ùr = pÙ(qÙr) )
• Operand daripada suatu kunjungsi juga disebut dng conjunct.

3. Disjungsi (or)
Disjungsi yang juga ada yang menyebut dengan alternatif yang bersesuaian dengan bentuk “ Salah satu dari … atau ….” (“Either.. Or..) . Pernyataan “p or q” bernilai T jika dan hanya jika salah satu p atau q (atau keduanya) bernilai T, dan ditulis :
p Ú q
dan mempunyai tabel kebenaran seperti pada slide berikut.

Sifat :
1) Komutatif ( p Ú q = q Ú p )
2) Asosiatif ( (p Ú q) Ú r = p Ú (q Ú r) )
• Perhatikan bahwa terdapat dua pengertian or yaitu “inclusif or” dan “exclusive or”.
Sebagai contoh :
• “Pintu rumah terbuka” or “jendela rumah terbuka”. Hal tersebut dapat keduanya
• “Suta pergi kekantor naik becak” or “Suta pergi kekantor naik angkot”. Hal tersebut tidak mungkin keduanya.
• Contoh pertama “or inclusive” dan disimbolkan dengan Ú
Contoh kedua “or exclusive” atau “non-equivalen” dan disimbol kan dengan Ú ( atau XOR atau ↔)


4. Implikasi (Implication)
Arti dp pernyataan “If p then q” atau “p implies q” atau “q if p” atau “p hanya jika q” atau “q sarat perlu untuk p” atau “p sarat cukup untuk q” adalah T jika salah satu dari p bernilai T dan q bernilai T atau jika p bernilai F. Jika tidak demikian, yaitu p bernilai T dan q bernilai F, maka nilai F. Ditulis :
p ® q
dan tabel kebenarannya seperti pada slide berikut (ada yang menggunakan simbol Þ)

Pernyataan berikut adalah sama :
1). “If p then q” 2). “p implies q”
3). “q if p” 4). “p hanya jika q”
5). “q sarat perlu untuk p” 6). “p sarat cukup untuk q”
Untuk penjelasan ini maka perhatikan kalimat :
“Jika Anita pergi keluar negeri maka ia mempunyai passport”
Penjelasannya adalah sebagai berikut :
• Jika Anita keluar negeri ( T ) dan Ia mempunyai passport (T), maka legal (T)
• Jika Anita keluar negeri (T) dan Ia tidak mempu nyai passport (F), maka illegal (F)
• Jika Anita tidak keluar negeri (F) dan ia mempu nyai passport (T), maka legal (T)
• Jika Anita tidak keluar negeri (F) dan ia tidak mempunyai passport (F), maka legal (T)



• Perhatikan bahwa : pernyataan p ® q selalu mempunyai tabel kebenaran dng (Øp) Ú q dan juga dengan Ø(pÙØq), (buat tabel kebe narannya)
• Contoh penggunaannya :

Buktikan bahwa jika x bilangan real maka jika x^2 bilangan gasal maka x bilangan gasal.
Bukti andaikan x genap maka x = 2n dimana n sebarang bilangan real. X^2 = (2n)^2= 4n^2 = 2(2n^2) yang juga bilangan genap. Sehingga didapat, dengan kontraposistif, terbukti.

5. Ekuivalensi
Pernyataan “ p ekuivalen dengan q” mempunyai nilai kebenaran T jika dan hanya jika p dan q mempunyai nilai kebenaran yg sama ditulis dengan simbol :
p « q
dan tabel kebenarannya seperti pada slide berikut ( ada yang menggunakan simbol Û)


Sifat :
1) Komutatif ; ( p « q = q « p)
2) Asosiatif ; ( (p « q) « r = p « (q « r) )
3) Pernyataan Ø(p « q) mempunyai tabel kebenaran yang sama dengan pernyataan p Ú q (Tunjukan)

• Perhatikan bahwa ia juga dapat dipikirkan sebagai pernyataan “ p jika dan hanya jika q”
• Pernyataan p « q disebut juga dengan bikondisional daripada p dan q, sebab ia selalu mempunyai tabel kebenaran sama-dng p « q =T (p ® q ) Ù (q ® p) atau (p ® q) Ù (p ¬ q)
• Ditulis dengan p « q =T (p ® q) Ù (p ® q)


3. PSEUDOCODE


DEFINISI ALGORITMA
Asal kata Algoritma berasal dari nama Abu Ja’far Mohammed Ibn Musa al-Khowarizmi, ilmuan Persia yang menulis kitab al jabr w’al-muqabala (rules of restoration and reduction) sekitar tahun 825 M
• Algoritma adalah urutan langkah logis tertentu untuk memecahkan suatu masalah. Yang ditekankan adalah urutan langkah logis, yang berarti algoritma harus mengikuti suatu urutan tertentu, tidak boleh melompat-lompat. (Dari Microsoft Press Computer and Internet Dictionaary 1997, 1998)
• Alur pemikiran dalam menyelesaikan suatu pekerjaan yang dituangkan secara tertulis. Yang ditekankan pertama adalah alur pikiran, sehingga algoritma seseorang dapat juga berbeda dari algoritma orang lain. Sedangkan penekanan kedua adalah tertulis, yang artinya dapat berupa kalimat, gambar, atau tabel tertentu.

CONTOH ALGORITMA DALAM KEHIDUPAN NYATA:
• Jika seorang ingin memasak atau membuat kue, baik itu melihat resep ataupun tidak pasti akan melakukan suatu langkah-langkah tertentu sehingga masakannya atau kuenya jadi.
• Jika seseorang ingin mengirim surat kepada kenalannya di tempat lain, langkah yang harus dilakukan adalah:
o Menulis surat
o Surat dimasukkan ke dalam amplop tertutup
o Amplop ditempeli perangko secukupnya.
o Pergi ke Kantor Pos terdekat untuk mengirimkannya.
Dalam bidang komputer, algoritma sangat diperlukan dalam menyelesaikan berbagai masalah pemrograman, terutama dalam komputasi numeris. Tanpa algoritma yang dirancang baik maka proses pemrograman akan menjadi salah, rusak, atau lambat dan tidak efisien.

PELAKSANA ALGORITMA ADALAH KOMPUTER.
Manusia dan komputer berkomunikasi dengan cara: manusia memberikan perintah-perintah kepada komputer berupa instruksi-instruksi yang disebut program.
Alat yang digunakan untuk membuat program tersebut adalah bahasa pemrograman. Bahasa pemrograman sangat bermacam-macam: C, C++, Pascal, Java, C#, Basic, Perl, PHP, ASP, JSP, J#, J++ dan masih banyak bahasa lainnya. pemrograman cara memberikan instruksinya berbeda-beda namun bertujuan menghasilkan output yang sama.

DARI BERBAGAI BAHASA
Kriteria Algoritma Menurut Donald E. Knuth
1. Input: algoritma dapat memiliki nol atau lebih inputan dari luar.
2. Output: algoritma harus memiliki minimal satu buah output keluaran.
3. Definiteness (pasti): algoritma memiliki instruksi-instruksi yang jelas dan tidak ambigu.
4. Finiteness (ada batas): algoritma harus memiliki titik berhenti (stopping role).
5. Effectiveness (tepat dan efisien): algoritma sebisa mungkin harus dapat dilaksanakan dan efektif.
Contoh instruksi yang tidak efektif adalah: A = A + 0 atau A = A * 1
Namun ada beberapa program yang memang dirancang untuk unterminatable: contoh Sistem Operasi

JENIS PROSES ALGORITMA
1. Sequence Process: instruksi dikerjakan secara sekuensial, berurutan.
2. Selection Process: instruksi dikerjakan jika memenuhi kriteria tertentu
3. Iteration Process: instruksi dikerjakan selama memenuhi suatu kondisi tertentu.
4. Concurrent Process: beberapa instruksi dikerjakan secara bersama.

PEMBUATAN ALGORITMA MEMPUNYAI BANYAK KEUNTUNGAN
1. Pembuatan atau penulisan algoritma tidak tergantung pada bahasa pemrograman manapun, artinya penulisan algoritma independen dari bahasa pemrograman dan komputer yang melaksanakannya.
2. Notasi algoritma dapat diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa pemrograman.
3. Apapun bahasa pemrogramannya, output yang akan dikeluarkan sama karena algoritmanya sama.

BEBERAPA HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM MEMBUAT ALGORITMA
1. Teks algoritma berisi deskripsi langkah-langkah penyelesaian masalah. Deskripsi tersebut dapat ditulis dalam notasi apapun asalkan mudah dimengerti dan dipahami.
2. Tidak ada notasi yang baku dalam penulisan teks algoritma seperti notasi bahasa pemrograman. Notasi yang digunakan dalam menulis algoritma disebut notasi algoritmik.
3. Setiap orang dapat membuat aturan penulisan dan notasi algoritmik sendiri. Hal ini dikarenakan teks algoritma tidak sama dengan teks program. Namun, supaya notasi algoritmik mudah ditranslasikan ke dalam notasi bahasa pemrograman tertentu, maka sebaiknya notasi algoritmik tersebut berkorespondensi dengan notasi bahasa pemrograman secara umum.
4. Notasi algoritmik bukan notasi bahasa pemrograman, karena itu pseudocode dalam notasi algoritmik tidak dapat dijalankan oleh komputer. Agar dapat dijalankan oleh komputer, pseudocode dalam notasi algoritmik harus ditranslasikan atau diterjemahkan ke dalam notasi bahasa pemrograman yang dipilih. Perlu diingat bahwa orang yang menulis program sangat terikat dalam aturan tata bahasanya dan spesifikasi mesin yang menjalannya.
5. Algoritma sebenarnya digunakan untuk membantu kita dalam mengkonversikan suatu permasalahan ke dalam bahasa pemrograman.
6. Algoritma merupakan hasil pemikiran konseptual, supaya dapat dilaksanakan oleh komputer, algoritma harus ditranslasikan ke dalam notasi bahasa pemrograman. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan pada translasi tersebut, yaitu:
a) Pendeklarasian variabel
Untuk mengetahui dibutuhkannya pendeklarasian variabel dalam penggunaan bahasa pemrograman apabila tidak semua bahasa pemrograman membutuhkannya.
b) Pemilihan tipe data
Apabila bahasa pemrograman yang akan digunakan membutuhkan pendeklarasian variabel maka perlu hal ini dipertimbangkan pada saat pemilihan tipe data.
c) Pemakaian instruksi-instruksi
Beberapa instruksi mempunyai kegunaan yang sama tetapi masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda.
d) Aturan sintaksis
Pada saat menuliskan program kita terikat dengan aturan sintaksis dalam bahasa pemrograman yang akan digunakan.
e) Tampilan hasil
Pada saat membuat algoritma kita tidak memikirkan tampilan hasil yang akan disajikan. Hal-hal teknis ini diperhatikan ketika mengkonversikannya menjadi program.
f) Cara pengoperasian compiler atau interpreter.
Bahasa pemrograman yang digunakan termasuk dalam kelompok compiler atau interpreter.

CONTOH ALGORITMA
Algoritma menghitung luas persegi panjang:
1. Masukkan panjang (P)
2. Masukkan lebar (L)
3. L ← P * L
4. Tulis L
Dalam Algoritma, tidak dipakai simbol-simbol / sintaks dari suatu bahasa pemrograman tertentu, melainkan bersifat umum dan tidak tergantung pada suatu bahasa pemrograman apapun juga. Notasi-notasi algoritma dapat digunakan untuk seluruh bahasa pemrograman manapun.
DEFINISI PSEUDO-CODE
Kode atau tanda yang menyerupai (pseudo) atau merupakan pejelasan cara menyelesaikan suatu masalah. Pseudo-code sering digunakan oleh manusia untuk menuliskan algoritma.
Problem: mencari bilangan terbesar dari dua bilangan yang diinputkan

CONTOH PSEUDO-CODE:
1. Masukkan bilangan pertama
2. Masukkan bilangan kedua
3. Jika bilangan pertama > bilangan kedua maka kerjakan langkah 4, jika tidak, kerjakan langkah 5.
4. Tampilkan bilangan pertama
5. Tampilkan bilangan kedua

Contoh Lain Algortima dan Pseudo-code:

Pseudo-code Algoritma
Nilai A ditambah dengan 5 A←A+5
Cetak nilai A bila lebih besar dari 10 IF A > 10 THEN PRINT A
Dari dua bilangan A dan B, cari bilangan yang terbesar IF A > B THEN PRINT A ELSE PRINT B

4. FLOWCHART ALGORITMA


.PENDAHULUAN
Flowchart adalah penggambaran secara grafik dari langkah-langkah dan urut-urutan prosedur dari suatu program. Flowchart menolong analis dan programmer untuk memecahkan masalah kedalam segmen-segmen yang lebih kecil dan menolong dalam menganalisis alternatif-alternatif lain dalam pengoperasian.
Flowchart biasanya mempermudah penyelesaian suatu masalah khususnya masalah yang perlu dipelajari dan dievaluasi lebih lanjut.

PEDOMAN-PEDOMAN DALAM MEMBUAT FLOWCHART
Bila seorang analis dan programmer akan membuat flowchart, ada beberapa petunjuk yang harus diperhatikan, seperti :
1. Flowchart digambarkan dari halaman atas ke bawah dan dari kiri ke kanan.
2. Aktivitas yang digambarkan harus didefinisikan secara hati-hati dan definisi ini harus dapat dimengerti oleh pembacanya.
3. Kapan aktivitas dimulai dan berakhir harus ditentukan secara jelas.
4. Setiap langkah dari aktivitas harus diuraikan dengan menggunakan deskripsi kata kerja, misalkan Menghitung Pajak Penjualan.
5. Setiap langkah dari aktivitas harus berada pada urutan yang benar.
6. Lingkup dan range dari aktifitas yang sedang digambarkan harus ditelusuri dengan hati-hati. Percabangan-percabangan yang memotong aktivitas yang sedang digambarkan tidak perlu digambarkan pada flowchart yang sama. Simbol konektor harus digunakan dan percabangannya diletakan pada halaman yang terpisah atau hilangkan seluruhnya bila percabangannya tidak berkaitan dengan sistem. Gunakan simbol-simbol flowchart yang standar.

JENIS-JENIS FLOWCHART
Flowchart terbagi atas lima jenis, yaitu :
1. Flowchart Sistem (System Flowchart)
2. Flowchart Paperwork / Flowchart Dokumen (Document Flowchart)
3. Flowchart Skematik (Schematic Flowchart)
4. Flowchart Program (Program Flowchart)
5. Flowchart Proses (Process Flowchart)

1. Flowchart Sistem
Flowchart Sistem merupakan bagan yang menunjukkan alur kerja atau apa yang sedang dikerjakan di dalam sistem secara keseluruhan dan menjelaskan urutan dari prosedur-prosedur yang ada di dalam sistem. Dengan kata lain, flowchart ini merupakan deskripsi secara grafik dari urutan prosedur-prosedur yang terkombinasi yang membentuk suatu sistem.
Flowchart Sistem terdiri dari data yang mengalir melalui sistem dan proses yang mentransformasikan data itu. Data dan proses dalam flowchart sistem dapat digambarkan secara online (dihubungkan langsung dengan komputer) atau offline (tidak dihubungkan langsung dengan komputer, misalnya mesin tik, cash register atau kalkulator).

2. Flowchart Paperwork / Flowchart Dokumen
Flowchart Paperwork menelusuri alur dari data yang ditulis melalui sistem. Flowchart Paperwork sering disebut juga dengan Flowchart Dokumen.
Kegunaan utamanya adalah untuk menelusuri alur form dan laporan sistem dari satu bagian ke bagian lain baik bagaimana alur form dan laporan diproses, dicatat dan disimpan.

3. Flowchart Skematik
Flowchart Skematik mirip dengan Flowchart Sistem yang menggambarkan suatu sistem atau prosedur. Flowchart Skematik ini bukan hanya menggunakan simbol-simbol flowchart standar, tetapi juga menggunakan gambar-gambar komputer, peripheral, form-form atau peralatan lain yang digunakan dalam sistem.
Flowchart Skematik digunakan sebagai alat komunikasi antara analis sistem dengan seseorang yang tidak familiar dengan simbol-simbol flowchart yang konvensional. Pemakaian gambar sebagai ganti dari simbol-simbol flowchart akan menghemat waktu yang dibutuhkan oleh seseorang untuk mempelajari simbol abstrak sebelum dapat mengerti flowchart.
Gambar-gambar ini mengurangi kemungkinan salah pengertian tentang sistem, hal ini disebabkan oleh ketidak-mengertian tentang simbol-simbol yang digunakan. Gambar-gambar juga memudahkan pengamat untuk mengerti segala sesuatu yang dimaksudkan oleh analis, sehingga hasilnya lebih menyenangkan dan tanpa ada salah pengertian.
4. Flowchart Program
Flowchart Program dihasilkan dari Flowchart Sistem. Flowchart Program merupakan keterangan yang lebih rinci tentang bagaimana setiap langkah program atau prosedur sesungguhnya dilaksanakan. Flowchart ini menunjukkan setiap langkah program atau prosedur dalam urutan yang tepat saat terjadi.
Programmer menggunakan flowchart program untuk menggambarkan urutan instruksi dari program komputer.


5. Flowchart Proses
Flowchart Proses merupakan teknik penggambaran rekayasa industrial yang memecah dan menganalisis langkah-langkah selanjutnya dalam suatu prosedur atau sistem.Flowchart Proses memiliki lima simbol khusus (lihat Gambar 4)

Gambar 4. Simbol Flowchart Proses
Flowchart Proses digunakan oleh perekayasa industrial dalam mempelajari dan mengembangkan proses-proses manufacturing. Dalam analisis sistem, flowchart ini digunakan secara efektif untuk menelusuri alur suatu laporan atau form.

SIMBOL-SIMBOL FLOWCHART
Simbol-simbol flowchart yang biasanya dipakai adalah simbol-simbol flowchart standar yang dikeluarkan oleh ANSI dan ISO.

5. STRUKTUR MASUKAN DAN KELUARAN

STRUKTUR SEKUENSIAL (RUNTUNAN)
Pada struktur sekuensial instruksi dikerjakan secara berurutan baris perbaris mulai dari baris pertama hingga baris terakhir, tanpa ada loncatan atau perulangan.
• Tiap instruksi dikerjakan satu per satu.
• Tiap instruksi dilaksanakan tepat sekali, tidak ada instruksi yang diulang.
• Urutan instruksi yang dilaksanakan pemroses sama dengan urutan instruksi sebagai tertulis di dalam teks algoritma.
• Akhir dari instruksi terakhir merupakan akhir algoritma.
Contoh Algoritma
Menghitung Luas Persegi Panjang :
1. Masukkan panjang (p)

2. Masukkan lebar ( l )

3. Hitung Luas (p * l )

4. Tulis Luas

Deklarasi :
A, B, C, D : integer
Deskripsi :
4. read (A, B) {1}
5. C A + B {2}
6. D A * B {3}
7. write (C, D) {4}

Deklarasi :
A, B, C, D : integer
Deskripsi :
4. read (A, B)
5. D A * B
6. C A + B
7. write (C, D)

Dari kedua algoritma hasil C dan D adalah SAMA
Tetapi jika algoritma di atas urutan no. 1,2 dan 3 diubah (ditukarkan ) maka menghasil keluaran yang berbeda (tidaksama) seperti berikut :
{di baca dua buah bilangan integer kemudian hitung penjumlahan dan perkalian dua buah bilangan tersebut, dan tampilkan hasilnya ke layar}

Deklarasi :
A, B, C, D : integer
Deskripsi :
C A + B
D A * B
read (A, B)
write (C, D)

Hasil C dan D akan berbeda dengan dua algoritma sebelumnya
STRUKTUR SELEKSI (PEMILIHAN)
Struktur seleksi adalah instruksi yang dipakai untuk memilih satu aksi dari
beberapa kemungkinan aksi berdasarkan suatu syarat Bentuk ke-1 dari pemilihan

Suatu aksi hanya dilakukan bila persyaratan atau kondisi tertentu dipenuhi. jika kondisi bernilai benar kerjakan aksi jika salah, tidak ada aksi apapun yang dikerjakan. Notasi algoritmik :
if Syarat then
Aksi {True}
endif {False}



Bentuk ke-2 dari pemilihan Apabila syarat dipenuhi maka aksi-1 dilaksanakan bila syarat tidak dipenuhi maka aksi- 2 yang dilaksanakan
Notasi Algoritma,
IF syarat THEN
aksi-1 {true}
ELSE
aksi-2 {false}
ENDIF


STRUKTUR PERULANGAN
Perulangan adalah instruksi yang dapat mengulang sederetan Instruksi secara berulang-ulang sesuai persyaratan yang ditetapkan.
Struktur instruksi perulangan pada dasarnya terdiri atas :
• Kondisi perulangan; suatu kondisi yang harus dipenuhi agar perulangan dapat terjadi.
• Badan (body) perulangan; deretan instruksi yang akan diulang-ulang pelaksanaannya.
• Pencacah (counter) perulangan; suatu variabel yang nilainya harus berubah agar perulangan dapat terjadi dan pada akhirnya membatasi jumlah perulangan yang dapat dilaksanakan

Jenis Perulangan :
2. For – Next
4. While – Do
6. Repeat – Until
Perulangan : FOR – NEXT
Bentuk umum :

For var=awal to akhir
…………….
instruksi-instruksi
……………..
Next var
Makna dari bentuk perulangan di atas adalah
ulangi instruksi tersebut berdasarkan variabel
perulangan mulai dari nilai awal hingga nilai
akhir.
Dari gambar di atas instruksi akan dikerjakan
sebanyak 4 kali, karena perulangan dimulai dari
1 sampai 4.
Perulangan : While – Do
Bentuk umum :
While {kondisi} do
…………..
instruksi-instruksi
…………..
Endwhile
Dari bentuk pengulangan di atas
instruksi akan dilaksanakan berulang kali selama kondisi bernilai TRUE , jika FALSE maka badan pengulangan tidak akan dilaksanakan yang berarti pengulangan selesai.

Contoh :
• Algoritma Cetak_Angka
• {mencetak 1, 2, .., 8 ke piranti keluaran}
• Deklarasi :
• K: integer
• Deskripsi :
• K=1 {inisialisasi}
• while k <= 8 do • write (k) • k=k + 1 • endwhile Perulangan : REPEAT – UNTIL Bentuk umum : Repeat ………. instruksi ………. Until ( kondisi ) Keterangan : Intruksi ( atau runtunan instruksi) akan dilaksanakan berulang kali sampai kondisi bernilai true, jika kondisi bernilai false maka pengulangan masih terus dilakukan. Contoh : • lgoritma Cetak_Angka • {mencetak 1, 2, .., 8 ke piranti keluaran} • Deklarasi : • K: integer • Deskripsi : • K=1 {inisialisasi} • repeat • write (k) • k= k + 1 • until k > 8


6. STRUKTUR KEPUTUSAN


DEFINISI
Struktur keputusan adalah struktur program yang melakukan proses pengujian untuk mengambil suatu keputusan apakah suatu baris atau blok instruksi akan diproses atau tidak. Pengujian kondisi ini dilakukan untuk memilih salah satu dari beberapa alternatif yang tersedia.
Syarat dalam dunia pemrograman adalah sebuah pernyataan Boolean,yang dapat bernilai benar (true) arau salah (false). Biasanya sebuah syarat terdiri dari operand-operand yang dihubungkan dengan operator logika. Yaitu: =, <>, >, <, >=, <=, and (dan) dan or (atau). STRUKTUR BRANCHING Struktur Branching Adalah perintah yang memungkinkan pemilihan atas perintah yang akan dijalankan sesuai dengan kondisi tertentu. Ketika program berjalan, mungkin hanya blok kode tertentu yang diperlukan saja yang akan dijalankan dengan kondisi tertentu. Hal itu dapat diatur menggunakan alur percabangan. Ada tiga pernyataan yang berkaitan dengan alur percabangan program yaitu: If....Then, If...Then...Else dan Select Case. • If…Then Pernyataan If...Then akan menguji suatu kondisi, jika True, program akan menjalankan pernyataan yang mengikutinya. Struktur If...Then bisa memiliki sintaks satu baris atau banyak baris. Sintaksnya adalah: If kondisi Then Pernyataan ‘Untuk perintah 1 baris If Kondisi Then ‘untuk perintah banyak baris Pernyataan End If Contoh kode dalam satu baris adalah: If Nilai >= 60 Then Hasil = “Lulus”
Contoh kode dalam banyak baris adalah:
If Nilai >= 80 Then
Msgbox “Anda Pintar”
ExitSub
End If

• If...Then...Else
Variasi dari pernyataan If...Then adalah pernyataan If...Then...Else yang akan menjalankan sebuah blok pernyataan jika kondisi bernilai True dan blok pernyataan lainnya jika kondisi False. Sintaks pernyataan If...Then...Else sebagai berikut:
If Kondisi Then
BlokPernyataan1
Else
BlokPernyataan2
End If
VB akan menguji kondisi, jika bernilai benar maka VB akan menjalankan blok pernyataan pertama kemudian melompat pada pernyataan di bawah End If. Jika kondisi bernilai salah VB mengabaikan blok pernyataan pertama dan menjalankan blok di bawah kata kunci Else. Contoh kode:
If Nilai >= 60 Then
Hasil = “Lulus”
Else
Hasil = “Tidak Lulus”
End If
Variasi lain dari pernyataan If...Then...Else menggunakan ElseIf sebagai berikut:
If Kondisi Then
BlokPernyataan1
ElseIf Kondisi2 Then
BlokPernyataan2
ElseIf Kondisi3 Then
BlokPernyataan3
Else
BlokPernyataanN
End If
Contoh kode banyak If sebagai berikut:
Dim Pesan As String
Nilai = InputBox(“Masukkan Nilai:”)
If Nilai <>
Pesan = “D”
ElseIf Nilai <>
Pesan = “C”
ElseIf Nilai <>
Pesan = “B”
Else
Pesan = “A”
End If
MsgBox(Pesan)

• Select Case
Pernyataan Select Case mirip dengan pernyataan If...Then...Else, pada dasarnya keduanya gunanya sama, tetapi menggunakan Select Case akan mempermudah menulis dan mengelola kode. Ketika pernyataan If...Then...Else memiliki banyak blok kode, kode menjadi sulit dibaca dan diikuti.
Struktur Select Case akan menguji ekspresi tunggal yang dievaluasi sekali pada bagian atas dari struktur. Hasil dari pengujian kemudian dibandingkan dengan beberapa nilai dan jika salah satu ada yang cocok, blok pernyataan yang berhubungan akan dijalankan.
Berikut adalah sintaks pernyataan Select Case:
Select Case Ekspresi
Case Nilai1
BlokPernyataan1
Case Nilai2
BlokPernyataan2
...
Case Else
BlokPernyataanN
End Select
Contoh kode sebagai berikut:
Dim Pesan As String
Select Case Weekday(Date)
Case vbSunday
Pesan = "Libur!"
Case vbMonday
Pesan = "I Love Monday!"
Case Else
Pesan = "Kerja lagi, kerja lagi!"
End Select
MsgBox (Pesan)

Argumen counter, awal, akhir dan penambahan/pengurangan semuanya adalah numerik. Pengulangan akan terus dijalankan sampai mencapai nilai counter. Contoh pengulangan For...Next adalah sebagai berikut:
Dim n As Integer
For n = 1 To 10 Step 2
‘Menambahkan item ke daftar ListBox
lista.AddItems “Item ke ” & n
Next
• For Each...Next
Pernyataan For Each mirip dengan pernyataan For...Next, kecuali variable pengulangan yang diperlukan bukan numerik melainkan array dan collection.
Pernyataan For Each akan mengulang untuk tiap-tiap elemen dalam array atau collection. Sintaksnya sebagai berikut:
For Each elemen In grup
[pernyataan]
[Exit For]
[Pernyataan]
Next
Elemen harus sama tipe datanya dengan tiap-tiap item dalam array atau collection. Grup adalah array atau collection. Langkah pengulangan secara otomatis melalui tiap-tiap elemen dalam array atau collection dan keluar dari pengulangan setelah mencapai akhir dari array atau collection. Contoh:
Hewan = Array("Kucing", "Anjing", "Monyet")
For Each NamaHewan In Hewan
‘tambahkan masing-masing data ke listbox
List1.AddItem (NamaHewan)
Next

STRUKTUR LOOPING
Struktur pengulangan/looping digunakan untuk menjalankan satu atau banyak baris kode secara berulang-ulang. Jenisnya adalah Do While...Loop, Do Until…Loop, For...Next dan For...Each...Next.
Pernyataan Do...Loop dapat anda gunakan jika belum tahu berapa kali pengulangan blok pernyataan. Jika Anda sudah tahu berapa kalo pengulangan blok pernyataan digunakan For...Next.

• Do...Loop
Do...Loop memungkinkan anda mengeksekusi serangkaian pernyataan berulang-ulang selama kondisi pengujian tetap benar. VB akan mengevaluasi ekspresi dan jika bernilai benar, pernyataan akan dijalankan. Ketika sampai
pada bagian akhir blok, ekspresi akan diuji lagi dan jika bernilai benar maka pernyataan akan diulang. Namun jika ekspresi bernilai salah maka program akan dilanjutkan ke pernyataan setelah loop.
Ada empat variari Do...Loop, dua yang pertama memiliki model yang sama. Pengualan akan dilakukan ketika kondisi bernilai benar atau sampai kondisinya bernilai benar. Keduai variasi menggunakan kata kunci While dan Until untuk menunjukkan berapa lama kondisi menjadi benar. Untuk menjalankan blok pernyataan While kondisi bernilai benar digunakan sintaks berikut.
Do While Kondisi
BlokPernyataan
Loop
Untuk menjalankan blok pernyataan Until kondisi menjadi benar digunakan sintaks berikut ini:
Do Until Kondisi
BlokPernyataan
Loop
Ketika VB menjalankan pengulangan di atas, yang pertama dilakukan adalah menguji kondisi, jika kondisi bernilai salah pernyataan pengulangan Do While akan dilewati tetapi pengulangan Do Until akan dijalankan. Ketika sampai pernyataan Loop, VB akan menguji ekspresi lagi dan mengulang blok pernyataan dari pengulangan Do While jika ekspresi bernilai salah dan pengulangan Do until jika ekspresi bernilai benar. Jika While akan berulang selama pengujian ekspresinya benar, sedangkan Until akan berulang selama kondisi ekspresinya salah.
Contoh Do While
Dim Nilai As Integer
Nilai = 0
Do While Nilai <>
Nilai = Nila + 5
Loop
‘Hasilnya 5, 10, 15, 20, ... sampai 100
Contoh Do Until
Dim Nilai As Integer
Nilai = 0
Do Until Nilai >= 100
Nilai = Nilai + 5
Loop
‘Hasilnya sama seperti Do While di atas
Variasi lain dari pengulangan Do Loop adalah menjalankan pernyataan dulu dan menguji kondisi setelah pernyataan dijalankan. Sintaksnya:
Do
BlokPernyataan
Loop While Kondisi
Atau
Do
BlokPernyataan
LoopUntil Kondisi
Contoh Loop While:
Dim Nilai As Integer
Nilai = 0
Do
Nilai = Nilai + 5
Loop While Nilai <>
Contoh Loop Until
Dim Nilai As Integer
Nilai = 0
Do
Nilai = Nilai + 5
Loop Until Nilai >= 100
• For... Next
Pada pengulangan For...Next, Anda harus mengetahui berapa kali pernyataan dalam pengulangan akan dijalankan. Pengulangan For...Next menggunakan suatu variabel (disebut counter) yang nilainya akan bertambah atau berkurang selama proses tiap pengulangan dari loop. Pengulangan For...Next memiliki sintaks sebagai berikut:
For Counter = awal To Akhir [Step penambahan/pengurangan]
Pernyataan
Next [counter]

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More